L I M B A H

jadikan lingkungan kita jauh dari penyakit yang mengincar kita :)

Kamis, 20 Maret 2014

MAKALAH PENELITIAN LALAT Drosophila

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Genetika disebut juga ilmu keturunan. Genetika merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana suatu sifat diturunkan pada suatu organisme, serta variasi yang mungkin timbul didalamnya. Manusia sampai saat ini masih sangat sulit digunakan sebagai permodelan dari genetika. Oleh karena itu, kita dapat menggunakan tumbuhan dan hewan sebagai obyek atau bahan percobaan dalam mempelajari hukum-hukum dari penurunan sifat. Model genetika yang biasanya digunakan adalah tumbuhan. Alasannya, karena tumbuhan mudah ditanam, mudah dikontrol suasana lingkungannya, dan mudah dibiakkan serta memiliki jumlah anakan yang banyak. Pada tahun 1905, hewan mulai dipakai sebagai hewan percobaan genetika setelah W.E Castle memperkenalkan Dhrosophila. Sebenarnya, Dhrosophila melanogaster sudah mulai digunakan sebagai model percobaan genetika sejak 1901 namun baru popular pada tahun 1910. Hal ini disebabkan karena T.H Morgan berhasil memperoleh lalat buah yang memiliki mata putih, padahal biasanya berwarna merah. Setelah itu, didapatkan beragam mutasi lainnya pada Dhrosophila melanogaster.
Drosophila melanogaster adalah jenis serangga bersayap yang masuk ke dalam ordo Diptera (bangsa lalat). Spesies ini umumnya dikenal sebagai lalat buah, di

dalam pustaka-pustaka biologi eksperimental organisme ini yang paling banyak digunakan dalam penelitian khusunya dalam penelitian genetika. Sejarah kehidupan Drosophila melanogaster populer karena sangat mudah berkembang biak yaitu hanya memerlukan waktu dua minggu untuk menyelesaikan seluruh daur kehidupannya, selain itu dalam pemeliharaannya juga terbilang sangat mudah, serta memiliki banyak variasi fenotipe yang relatif mudah diamati.
Dalam melakukan praktikum genetika yang berikutnya, kita akan semakin banyak menggunakan Dhrosophila sebagai bahan permodelan genetika. Siklus hidupnya penting untuk diketahui karena dengan mengetahuinya kita dapat memberikan perlakuan yang sesuai dalam perawatannya. Selain itu, dengan mempelajari siklus hidup kita dapat mengetahui fase-fase dari telur hingga menjadi imago dan mengetahui kondisi yang tepat bagi masing-masing fase-fase.
1.2. Rumusan Masalah
Apakah ada pengaruh jenis makanan terhadap warna mata lalat Drosophila?

1.3 Tujuan Penelitian
Mengetahui apakah ada pengaruh jenis makanan terhadap warna mata lalat drosophila.

1.4 Manfaat penelitian                        
Manfaat dari penulisan laporan ini adalah :
·        Dapat mengetahui pengaruh jenis makanan terhadap warna mata lalat drosophila

1.5 Metode penulisan
Dalam pembuatan laporan ini dilakukan dengan cara :
·        Metode identifikasi.
·        Mengumpulkan data dari buku dan internet.

1.6 Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan para pembaca penulis menyusun laporan ilmiah ini dalam beberapa bab.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1       Kajian Teori
 Soemartono (1979) menyatakan bahwa drosophila sp merupakan hewan yang bersayap , dan berukuran kecil. Maka dari itu pengamatan morfologi  hewan ini bisa dengan menggunakan alat bantu seperti LUV ataupun kaca pembesar . genus drosophila menpunyai banyak spesies . spesies yang paling banyak dan tersebar luas adalah drosophila melanogaster. Selama musim panas spesies ini terdapat disemua bagian dunia yang biasanya mengerumuni buah-buahan yang ranum . Drosophila memiliki ciri morfologi yang berbeda antara jantan dan betina nya . pada drosopila jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil bila di bandingkan dengan yang betina. Memiliki 3 ruas di bagian abdoman nya dan memiliki sisir kelamin . sedangkan pada yng betina ukuran relatife lebih besar, memiliki 6ruas pada bagian abdomennya dan tidak memiliki sisir kelamin
Sepoetro(1975) menyatakan bahwa pada drosophila ditemukan 4 pasang kromosom .pada lalat jantan dan betina umumnya adalah sama , tetapi ada sedikit perbedaan yaitu pada salah satu kromosom jantan terdapan lengkungan seperti mata pancing.
Goodenough(1984)  menyatakan bahwa pada drosophila jantan dan betina dapat mudah di pisahkan dalam bentuk segmen-segmen abdomen. Abdomen betina mempunyai ujung runcing dan pola garis-garis yang berbeda dari pada abdomen jantan. Kelamin lalat di tentukan sebagian oleh kromosom X yang dimiliki individu. Normalnya lalat betina akan memiliki 2 kromosom X. Sedangkan lalat jantan hanya memiliki 1 kromosom X tambah 1 Y heterokromatik. Pada lalat buah kromosom Y tidak memiliki peranan penting dalam penentuan jenis kromosom pada kromosom drosophila hanya sedikit gen aktif.
Terdapat perbedaan yang terlihat jelas dari Drosophila melanogaster jantan dan Drosophila melanogaster betina,yaitu ukuran tubuh lalat betina lebih besar dibandingkan lalat jantan, ujung abdomen pada lalat betina meruncing dan pada abdomennya terdapat garis-garis hitam melintang, sedangkan pada lalat jantan ujung abdomennya tumpul berwarna kehitam-hitaman, pada abdomennya terdapat sedikit garis-garis melintang dan terdapat sex comb yang tidak terdapat pada lalat betina. Sex comb adalah sisir kelamin sebagai penanda lalat jantan (Suryo 2003: 177-178).
Drosophila melanogaster dan antropoda lain mempunyai konstruksi modular, suatu seri segmen yang teratur. Segmen ini menyusun tiga bagian tubuh utama: kepala, toraks (tubuh bagian tengah, dari sayap dan kaki berawal), dan abdomen, perut bagian bawah. Drosophila melanogaster seperti hewan simetris bilateral lainnya. Drosophila ini mempunyai poros anterior dan posterior (kepala-ekor) dan poros dorsoventral (punggung-perut). Pada Drosophila, determinan sitoplasmik yang sudah ada di dalam telur memberi informasi posisional untuk penempatan kedua poros ini bahkan sebelum fertilisasi, setelah fertilisasi, informasi dengan benar dan akhirnya akan memicu struktur yang khas dari setiap segmen. (Campbell dkk. 2002: 423-424).
Drosophila melanogaster normal (wild type) memiliki ciri-ciri memiliki mata yang berwarna merah berbentuk elips. Terdapat pula mata oceli yang ukurannya jauh lebih kecil dari mata majemuk, berada pada bagian atas kepala, di atas di antara mata dua mata majemuk, berbentuk bulat. Terlihat sungut yang berbentuk tidak runcing dan bercabang-cabang. Kepala berbentuk elips. Thorax terlihat berwarna krem, ditumbuhi banyak bulu, dengan warna dasar putih. Abdomen bersegmen lima, segmen terlihat dari garis-garis hitam yang terletak pada abdomen. Sayap Drosophila melanogaster wild type memiliki panjang yang lebih panjang dari abdomen lalat, lurus, dan bermula dari thorax dengan warna transparant. Urat tepi sayap (costal vein) mempunyai dua bagian yang terinteruptus dekat dengan tubuhnya. Sungut (arista) umumnya berbentuk bulu, memiliki 7-12 percabangan. Crossvein posterior umumnya lurus, tidak melengkung. Pengamatan determinasi dan pembedaan strain Drosophila satu dengan lainnya menunjukkan adanya perbedaan baik dari bentuk sayap, warna mata, warna tubuh, dan ukuran tubuh (Ghostrecon 2008: 1).








BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian adalah suatu hal yang penting dalam suatu penelitian ilmiah, maka penulis menyusunnya sebagai berikut :
  • Identifikasi Variabel, yakni faktor-faktor yang berpengaruh dalam suatu penelitian. Ada beberapa variabel dalam suatu penelitian. Untuk mengetahui pengaruh suatu variabel terhadap variabel lainnya. Pengamatan dilakukan terhadap variabel tersebut, dan mengukur variabel yang di pengaruhinya. Sementara itu, variabel yang lain  dibuat tetap (terkontrol) untuk mengisolir fenomena yang dapat berpengaruh terhadap pengamatan tersebut. Ada pun variabelnya sebagai berikut :
Ø  Variabel bebas, yaitu Jenis makanan
Ø  Variabel terikat, yaitu warna mata
Ø  Memilih peralatan yang sesuai dengan penelitian.
Ø  Melakukan pengamatan akurat, dalam hal ini adalah melakukan pengamatan terhadap semua objek dalam penelitian pada saat melakukan penelitian terutama pada alat dan bahan agar tujuan dari penelitian dapat dicapai.
Ø  Mengumpulkan data dan hasil penelitian, dalam hal ini pencatatan data harus jelas guna kelancaran penelitian.

3.2 Alat dan Bahan
           1.Alat                                                      
a.       botol /toples, 9 buah           
b.      kaca pembesar
c.       kain kasa

           2.Bahan
a.       Pisang
b.      mangga
c.       gula merah
d.      tape singkong

3.3 Cara Kerja
1.      Menyiapkan bahan yang di butuhkan
2.      Mencampurkan gula merah dengan air , lalu masak hingga mendidih
3.      Sementara itu , memblender 7 gram pisang hingga halus
4.      Mencampur pisang dengan tape singkong yang telah di blender  didalam air gula yang sedang mendidih
5.      Mengaduk sampai rata diatas api yang kecil
6.      Dan diamkan sampai pisang menjadi matang
7.      Membiarkan adonan mendidih sekitar lebih kurang 15 menit
8.      Apabila adonan sudah dingin menyiapkan 3botol / toples dan memasukkan adonan kedalam botol tersebut dan tutup dengan kain kasa
9.      Mengamati lalat yang sudah masuk kedalam botol tersebut , pilih botol yang paling banyak terdapat lalat Drosophila  dan mengambil lalat  jantan dan betina sebanyak 9 pasang
10.  Mengulangi  langkah diatas untuk membuat adonan ( jenis makanan ) baru dengan media mangga dan pepaya
11.  Kemudian mengamati keturunan  dari lalat Drosophila .



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1  Deskripsi Data
Adapun data yang terkumpul adalah sebagai berikut:

ciri tubuh
Bentuk sayap
Warna mata
 Jantan
 betina
 Jantan
 Betina
 Jantan
 betina
berukuran kecil
berukuran besar
lebih pendek
lebih panjang
merah
merah

Bahan
ciri tubuh

bentuk sayap
warna mata
 Jantan
 Betina
Pisang I
 kecil
 Besar
 pendek
 Panjang
Merah
Pisang II
 kecil
 Besar
 pendek
 panjang
Merah
Pisang III
 kecil
 Besar
 pendek
 panjang
Merah
Mangga I
-
-
-
-
-
Mangga II
-
-
-
-
-
Mangga III
-
-
-
-
-
Pepaya I
-
-
-
-
-
Pepaya II
-
-
-
-
-
Pepaya III
-
-
-
-
-
4.2              Pembahasan
Setelah kita memancing lalat di temukan lalat jantan dan betina dengan ciri-ciri tubuh seperti ini, lalat jantan lebih kecil badannya di bandingkan lalat betina, lalat jantan sayapnya lebih pendek di bandingkan dengan lalat betina,dan warna matanya semuannya merah, setelah d temukannya lalat jantan dan betina,lalat tersebut di silangkan dengan media makanan yang berbeda. Pada toples yang berisi pisang di dapatkan keturunan yaitu sayap pendek pada lalat jantan dan sayap panjang pada lalat betina dan warna matanya semuanya merah. Pada toples yang berisi mangga,pada saat persilangan lalat tersebut mati karena pengaruh suhu , makanan , dan lingkungan.
2.3. Faktor yang Mempengaruhi Siklus Hidup Drosophila melanogaster
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada siklus hidup Dhrosophila melanogaster antara lain:
1.      Suhu Lingkungan
Lalat buah mengalami kondisi siklus hidup dan pertumbuhan yang optimal sekitar 8-11 hari apabila berada pada suhu 25o-28oC. Waktu perkembangan yang paling pendek (telur-dewasa), adalah 7 hari, dan dicapai pada suhu 28° C. Perkembangan meningkat pada suhu yang lebih tinggi, yaitu sekitar 30° C, selama 11 hari, hal tersebut berkaitan dengan pemanasan tekanan. Pada suhu 25° C tersebut, lama harinya umumnya adalah sekitar 8.5 hari, sedangkan pada suhu 18° C lama harinya sekitar 19 hari dan pada suhu 12° C lama hari perkembangannya adalah 50 hari. Pada suhu 30o, lalat buah dewasa yang dihasilkan akan steril.
2.      Nutrisi makanan
Kekurangan nutrisi atau makanan akan menyebabkan jumlah telur yang dihasilkan menurun dan pertumbuhannya menjadi lambat. Lalat buah yang kekurangan nutrisi juga akan menghasilkan larva-larva yang kecil, pupa yang kecil dan seringkali gagal tumbuh menjadi lalat dewasa atau menghasilkan individu dewasa yang akan menghasilkan sedikit telur. Vitabilitas telur-telur ini juga dipengaruhi juga oleh jenis makanan yang dimakan oleh induk.
3.      Tingkat Kepadatan
Pengisian botol medium sebaiknya dengan menggunakan medium buah yang cukup dan tidak terlalu banyak. Jumlah lalat buah dalam botol medium juga mempengaruhi kualitas pertumbuhan lalat buah, yang dikembangkan dalam botol media cukup hanya beberapa pasang saja. Dengan kondisi yang ideal, lalat buah dapat hidup hingga 40 hari. Kondisi botol yang terlalu padat akan menurunkan jumlah telur yang dihasilkan dan menurunkan lama hidup suatu individu (tingkat kematian meningkat).
4.      Intensitas cahaya
Dhrosophila melanogaster menyukai daerah yang remang-remang. Intensitas cahaya yang tinggi akan menyebabkan fase bertelur yang terlambat. Intensitas cahaya yang gelap (rendah) akan menyebabkan pertumbuhannya menjadi lambat.  kita tidak mengetahui pengaruh makanan pada lalat drosophila karena pada saat persilangan pada toples mangga dan pepaya lalat tersebut mati sehingga kita tidak mengetehui perbedaan makanan.Dan hasil persilangannya sama dengan induknya karena saat memancing induk lalat menggunakan media pisang .Dalam mencari F1 keturunannya tidak berbeda jauh karena belum mengalami mutasi gen dan mutasi biasanya terjadi pada F2 .

Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Upafamili:
Genus:
Upagenus:
Grup spesies:
Grup melanogaster
Upagrup spesies:
Subgrup melanogaster
Spesies kompleks:
Melanogaster
Spesies:
D. melanogaster
Drosophila melanogaster
Meigen, 1830

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan dapat disimpulkan bahwa,pada persilangan lalat drosophila kita tidak mengetahui pengaruh makanan terhadap warna mata karena hanya pada media pisang saja yang dapat menghasilkan keturunana , sedangkan pada media mangga dan pepaya tidak menghasilkan keturunan .Tahap yang dilewati adalah telur, larva, pupa dan imago lalu selanjutnya berkembang menjadi Drosophila sp dewasa.



0 komentar:

Posting Komentar